Friday, December 12, 2025

Refleksi yang Terpatri di Sanubari dari IAFOR Tokyo



Alhamdulillah dapat kesempatan hadir dan berbagi di ACE Tokyo. Banyak ngobrol dengan peneliti dan praktisi dari berbagai negara, dan ternyata banyak hal yang mereka alami juga terjadi di sekolah-sekolah sekitar kita di Indonesia. Refleksi yang paling terpatri di sanubari : 

1. Masalah pendidikan mirip di mana-mana—yang beda itu cara sistem meresponsnya.

Dari peserta Singapura, India, sampai Jepang, cerita yang muncul kurang lebih sama: motivasi belajar menurun, dukungan rumah tidak merata, dan leaders juga lagi berjuang menggerakkan guru. Bedanya, beberapa negara sudah menyiapkan sistem respons yang lebih solid—kurikulum, assessment, sampai support struktural—sehingga masalah yang sama bisa ditangani lebih terarah. Ini bikin saya refleksi: tantangannya sama, tapi respons sistemnya yang membedakan kecepatan progres.

2. Kurikulum yang Adaptif pada Perubahan Politik

Salah satu hal yang paling menarik dari sesi yang saya ikuti adalah bagaimana Jepang merombak kurikulum secara menyeluruh, bukan hanya ganti isi pelajaran di satu jenjang. Mereka membangun sistem yang bisa tetap stabil meski situasi politik berubah—dan dilakukan dari SD sampai ujian masuk universitas. Ada tiga poin : 

  1. Pergeseran filosofi belajar Bukan lagi mengejar cepat–benar–akurat, tapi memahami, bertanya, dan berpikir. 

  2. Reformasi K–12 : Active Learning diterapkan di semua jenjang. Di SMA muncul mata pelajaran baru yang relevan dengan kehidupan dan masyarakat: Science & Math Inquiry, Integrated Inquiry & Project-Based Learning, Public Philosophy & Policy (cara mengambil keputusan dalam dilema), Comprehensive History Studies → historical thinking, bukan hafalan, Comprehensive Geography → isu sosial global, survival, konflik manusia, IT & Programming Poinnya : mereka tidak lagi terjebak di hafalan tahun–peristiwa, tapi membawa siswa pada analisis konflik, tantangan global, dan bagaimana manusia beradaptasi.

  3. Reformasi Ujian Masuk Universitas. Jepang juga mereformasi ujian masuk universitas: dari soal hafalan menjadi asesmen yang menilai thinking, judgement, expression, menggunakan New Common Test berbasis penalaran, mengalokasikan 30% kuota untuk penilaian aktivitas dan riset, serta mulai 2025 menambahkan penilaian computing skills. Dengan cara ini, reformasi mereka berjalan terintegrasi dari sampai universitas, bukan tambal-sulam—dan ini membuat saya sadar bahwa kurikulum hanya akan berubah secara nyata kalau “ujung sistemnya” ikut berubah.


3. AI dan Otonomi Belajar

Pernah dengar guru bilang, “AI dilarang dipakai di kelas”? Di beberapa sesi IAFOR, ternyata banyak juga pendidik ngalamin kebingungan yang sama. Tapi pesan utamanya jelas: yang jadi masalah bukan AI-nya, tapi kalau guru dan siswa nggak tau cara memakainya.

Karena itu, ada ide buat memakai pendekatan bertahap yang justru mendukung otonomi belajar, bukan mematikan:

  • Level 1 – Passive use: cari, rewrite, lookup

  • Level 2 – Guided use: refine, compare, minta feedback

  • Level 3 – AI as a thinking partner: brainstorm, ideate, contextualize

Pendekatan ini menunjukkan bahwa AI policy bukan bentuk pembatasan, tapi bentuk dukungan. Tujuannya agar siswa dan guru belajar berpikir dengan AI, bukan berpikir digantikan AI. Ini terasa sangat relevan untuk konteks kita di Indonesia, apalagi kalau kita ingin mendorong kemandirian belajar dan agency di kelas.



4. Jadi poster presenter

Pertama kali ngerasain jadi poster presenter, kayaknya 1 jam full ngobrol sama beberapa tamu yang interest dijelasin lebih lanjut. Ada yang dari MoE Singapura, India, diaspora Indonesia yang lagi studi di luar negeri.. dan sesama guru yang dikirim sekolahnya buat cari insight di IAFOR.

Di Poster ngebawain program Pendampingan Sekolah pakai cara 5M - Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan, dan Memberdayakan Konteks—membantu memastikan bahwa guru dan pemimpin sekolah merasa dipahami, memahami makna pekerjaannya dan konsep pengajaran yang berpihak pada anak, mengalami siklus belajar yang berkelanjutan, mendapat tantangan yang relevan, dan mampu memberdayakan komunitas sekitar untuk mencapai tujuan yang dipetakan.

Pendekatan ini membuat pendampingan tidak berhenti di pelatihan, tetapi menjadi proses empower­ment: membantu guru memimpin dirinya dulu, lalu timnya, dan managing innovation untuk pendidikan yang berpihak pada anak. Di akhir, ada pertanyaan di poster "how is relevant is this in your context?".. kalo relevan tempel stiker sesuai warna yang dia mau.

These notes are simply what I took away from the conference, based on what I heard and understood. I might have misunderstood or missed a few things here and there—if anyone wants to add or clarify, I’m all ears.

Happy to connect with educators, researchers, and anyone working on school improvement or teacher development.




Monday, February 4, 2019

Tips Ala ala Menulis Anotasi Bibliografi

Anotasi bibilografi merupakan bentuk tulisan yang memaparkan kajian atau ringkasan singkat dari beberapa buku atau artikel yang saling berkaitan. Di samping itu, uraiannya menggambarkan pemahaman penulis terhadap buku atau artikel yang dibahas.

- Buku Pedoman Karya Tulis Ilmiah UPI

Perlu gak sih buat Anotasi Bibliografi?

Setelah ngerasain manfaatnya secara signifikan dalam membuat makalah atau karya tulis lain yang lebih panjang dan membutuhkan banyak literatur, gw bisa bilang membuat anotasi ini bermanfaat banget. 
Ok mari kita list apa aja manfaatnya :
1. Anotasi memperbanyak pengetahuan kita agar lebih terfokus sama topik yang ingin kita kuasai. Contoh, gw ambil anotasi soal kurikulum rekonstruksi sosial, di banyak penelitian yang gw anotasiin memuat hal yang fokusnya beda-beda. Ada yang bahas filosofinya, pembelajarannya sampe ada yg bahas evaluasinya. Nah, dari situ kebayang kan pengetahuan kita akan topik tertentu jadi menyeluruh dan kalo kata prof prof, KOMPREHENSIP.

2. Dosen gw pernah mengoreksi salah 1 makalah di kelas, beliau bilang gini "ini juga daftar pustakanya sedikit sekali ya, ketahuan bacaannya ga banyak". Jleb, gw ngerasa iya juga ya.. ternyata para profesional memang menilai karya ilmiah dr banyaknya literatur dalam karya itu dan jadi salah 1 bahan penilaian.. jd inilah pentingnya anotasi, memperkaya literatur dalam karya ilmiah.

3. Anotasi buat kita gampang inget kalo sewaktu waktu mesti cari bahan bacaan terkait topik yang lagi kita tulis, tinggal buka aplikasi tempat kita nulis terus find deh keywordnya, karna kalo search nya di google kan kebayang yg mesti difilter segimana banyak ya bok.

Nah itu tadi manfaatnya, jadi jika sobat2 mahasiswa non pekerja dan non magang kalo lg gabut mending pikirin skripsi/tesis sedari dini dengan ngumpulin anotasi.. kan enak tuh kalo udh saat nya bikin jurnal tinggal ngelanjutin bikin jurnal literature review, dan kalo udh saatnya submit proposal tinggal masukkin ke bab 2 tinjauan pustaka yang sesuai sama topik yg jd interest kita dan mau kita teliti.

Lantas, gimana caranya, susah ngga?
NGGAAA... susah di awal si normal ya, tp kalo dah nemuin polanya jadi enak.. Berikut cara buat anotasi ala gw :

1. Tentukan topik yang bener-bener kamu suka. Menentukan topik buat gw berlangsung sekitar 3 bulan, setelah baca sana sini gw memilih sebuah topik yang masih jarang dibahas dan sebagai anak IPS, harus banget berpengaruh pada isu sosial dan kehidupan sehari-hari.

2. Cari jurnal dan penelitian yang kevalidannnya oke. Kalo gw banyak ambil dari ERIC, google scholar dan jurnal milik kampus (Universitas Pendidikan Indonesia)

3, Buat membaca keseluruhan isi jurnal yang diambil pasti butuh waktu banyak, kalo gw cukup baca abstrak, pembahasan penelitian dan kesimpulannya aja.

4. Setelah itu tulis dengan kata-kata sendiri sekitar 1 paragraf apa yang dipahami dari isi jurnal

5. Di buku panduan penulisan karya ilmiah UPI, anotasi terbagi jadi 2, anotasi deskriptif atau evaluatif. Kalau kamu milih buat pakai yang deskriptif berarti cukup deskripsikan aja isis jurnalnya yang sesuai topikmu. Kalau pilih evaluatif berarti sertakan komentar mu tentang isi jurnal di paragraf sesudahnya.

6. Jangan pikirin teknik penulisan di awal (kata2nya udah bagus apa belom/titik koma, huruf harus di bold/italic dll.. nanti udah males sendiri. Ini jadi bagian terakhir aja. (kalo gw yaaa...)

So.. ini salah 1 contoh anotasi gw yang telah melewati sesi screening dari dosen gw Prof. Said Hamid Hasan, MA

Contoh anotasi evaluatif


Kadek Jimi Adnyana, I Wayan Lasmawan, I Wayan Koyan. (2013) Pengaruh Model Pembelajaran Rekonstruksi Sosial Terhadap Keterampilan Berfikir Kreatif Dan Pemahaman Konsep IPS”. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha

Dalam penelitian ini disebutkan Model rekonstruksi sosial tidak semata untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa namun hal tidak kalah pentingnya adalah memberi kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menuangkan ide-ide kreatifnya dalam memecahkan permasalahan melalui team work. Siswa akan bertukar pikiran dalam mencari solusi untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi, dengan membaca buku, majalah, koran, menyimak berita, kegiatan wawancara, observasi lapangan, sehingga menghasilkan banyak wawasan untuk menghasilkan sebuah ide dalam pemecahan masalah dengan rangkaian langkah-langkah pembelajaran rekonstruksi sosial, diantaranya (1) appercaption; (2) citing an examples; (3) listing, grouping, labeling; (4) charting; dan (5) experiencing.

Artikel ini memuat secara detail mengenai rekonstruksi sosial, namun dalam pembahasannya, peneliti menitik beratkan bahwa rekonstruksi sosial adalah model pembelajaran.Sedangkan dari mayoritas sumber yang penulis baca, rekonstruksi sosial merupakan model kurikulum, bukan pembelajaran. Namun dengan adanya pembahasan mengenai pembelajaran secara lebih detail, maka hasil penelitian ini juga dapat dijadikan acuan pada tataran implementasi kuirkulum rekonstruksi sosial dalam kaitannya dengan pembelajaran.
 
 Okey... Sekian penjelasan singkat tentang Anotasi Bibliografi, selamat mencoba!



Friday, November 16, 2018

Tips ala ala Membuat Makalah

Bismillah, Assalamuálaykum ges .. wkwk balon2.. siapapun nantinya yang beruntung ataupun khilaf membaca blog gw jadi sejatinya gw menulis kembali blog ini atas dasar ide dari temen sekelas gw yang suka nyimpen tugas kuliahnya di blog, ya kalo gw cukup di GDrive tadinya, tapi karena begini dan begitu dan gw merasa perlu juga buat suatu saat ada pejuang makalah dan karya tulis di luar sana dengan topik dan interest yang sama mau nyari-nyari bahan.

Penting ga sih makalah itu?

Teman-teman dari kalangan manapun pasti udh khatam belajar makalah ini. Tadinya jujur, di tugas makalah manapun gw selalu mengerjakannya dengan separuh hati karena gw pikir ga terlalu esensial, ada yang lebih penting buat diperhatiin banget yaitu buat jurnal (goal semua mahasiswa yang pingin lulus tepat waktu kayanya). Tapi kemudian gw disadarkan sama 2 dosen gw yang sangat inspiratif kalo lagi ngajar, karena dari mereka Alhamdulillah Allah kasih gw ilham dan inspirasi serta insight yang dalam berkaitan sama minat gw di bidang sosial. Dosen gw tersebut namanya Prof. Hj. Enok Maryani, MS. dan Pak Prof Said Hamid Hasan, M.A  , kesimpulannya dari penjelasan 2 prof ini kemarin adalah :

1. Makalah itu adalah cerminan kemampuan menganalisis kita yang kita kembangin dari pemikiran orang lain. Karena pada dasarnya belajar itu ga ada yang dari 0, semua pasti ada sumber yang bisa kita pelajarin dan kembangin. Jadi, dari pemilihan bahasa penyajian dan persepsinya pun menurut kita.

2. Yang dilihat dari makalah adalah kemampuan kita menyimpulkan dari berbagai teori, bukan hanya parade teori yang ga kita simpulkan dan analisis.

3. Kemampuan analisis masalah ga bakal bisa dikembangin kalo kita ga rajin membaca, kita jadi ga tau isu2 yang lagi berkembang dan merasa semuanya baik-baik aja. Jadi rajin-rajinlah membaca

jadii.. bagaimana cara yang lumayan mempermudah dalam membuat makalah?

1. Cari dari sumber yang kredibel bahan bacaan



Khusus buat anak sosial/IPS https://www.socialstudies.org/

2. Cari isu terkini yang berkaitan sama minat

Dari berita-berita yang berisi anti nyinyir nyinyir club ya, atau dari Instagram tokoh yang menurutmu inspiratif, kalo gw suka baca IG nya Pak Ridwan Kamil buat tau yang update-update dan sesuai sama minat.

3. Buat Anotasi sederhana terkait topik

Anotasi akan dibuat sendiri pembahasannya, berat di awal sih tapi memudahkan buat nulis makalah kita biar lebih berisi

4. Mulai aja dulu, kalo cuma dipikirin doang ga bakal jadi

5. Hindari kesalahan "konyol" dengan salah kaidah-kaidah penulisan sederhana

 6. Kurangi kata "menurut" ini dan itu kalo mau ngutip teori, cukup tulis teorinya dan buat catatan kaki

 7. Bab pendahuluan itu bukan parade teori, kembangin teori yang ada sama fenomena yang mau diangkat

 

Bismillah, semoga lancar buat karya-karyanya, aamiin

Friday, October 13, 2017

Menolak Move On dari akhir pekan atau libur panjang, do you?

Bye Holidaayyyy....
postingan ini gue tulis sembari makan bekel yang gue masak sendiri jam setengah 3 pagi dan menanti pesawat boarding menuju Lampung..
Badan rasanya berat, kasur berasa lebih comfort dari biasanya, packing dilama-lamain, dan sekumpulan mager bersatu seketika kalo abis waktu liburan... ada yang merasakan?, yakkk.., same story, artinya kita masih susah banget move on dari libur panjang dan setumpuk kerjaanpun menanti.

Mungkin banyak dari kita yang ngerasain ini juga, sadar gak sadar ini pun terjadi setiap hari jumat, hari dimana yang kerja atau sekolah ngerasa bahagia banget karena besoknya free dari rutinitas..

Entah berapa banyak dari kita yang gak seru-seruan update status TGIF dan I hate monday setiap minggunya, entah brapa banyak dari kita juga yang gerutu-gerutu kecil kalo besoknya harpitnas, dan teriak horay dengan huuf a sekian banyak kalo besoknya mau long weekend.. atau seperti temen gue yang beberapa kali ngetweet menanyakan ada gak hari sebekum senin dan setelah minggu.. it really happens!

------------------------------- mikir mau nulis apa ---------------------------

If you live for weekends or vacations, your shit is broken. 
– Gary Vaynerchuk

Itu quote yang di tweet sahabat gue dan akhirnya ngerubah pandangan gue tentang liburan dan kerjaan. Break dari rutinitas adalah semua hal yang manusia normal butuhin, karena kalo nggak pasti akan ngaruh ke kualitas belajar atau kerjaan kita... Tapi finally gue berpikir, kalo setiap mau kerja yang dikeluhin adalah kapan kita libur terus atau kapan kita gajian dan dapet bonus terus, do we really love our job?

Ngabisin seumur hidup buat ngelakuin apabyang kita kerjain emang rugi banget, sadarbga sadar kerjaan sekarang mungkin buat sebagia  kita cuma rutinitas buat oemenuh kebutuhan, bukan karena kita cinta dan seneng sama apa yang kita kerjain, alhasil masa jenuh sama kerjaan bukan tempo-tempo tertentu aja melainkan setiap hari, dannnng! Ada yang merasakan?, "WAALAIKUMSALAM" TO YOUR JOB.

Menurut gue kurangnya kesenangan dan kepuasan kita samankerjaan kita sekarang jadi penyebab utamakenapa keluah-keluhan itu sering banget keluar. Istirahat sebelum capek, tidur sebelum ngantuk, dan kalau waktu-waktu itu gak terpenuhin, kutukan-kutukan halus lah yang keluar.... kosong, kerjaan cuma rutinitas tapi feel bekerja dan struggling nya gak kita milikin...


Sunday, January 19, 2014

Little experience...

Yessss... ini mungkin udah jarang kita temukan di sekolah-sekolah diperkotaan, papan tulisnkapur. Ini jadi salah satu tantangan buat saya juga, dikarenakan tulisan tangan yang hampir menyerupai mereka, saya cukup kualahan nulis di papan tulis kapur sampai akhirnya sekarang udah mulai biasa... mari kita lestarikan kapur! 
-___-'

Pejamkan sejenak mata anda ...
lalu lihat kembali seoonggok bungkusan di atas pintu di foto ini ..
Yak, ini adalah sebungkus daging kurban yang dititip tetangga untuk saya, ceritanya surprise gicuuuuu... :p

Tok tok tok .... bu! Bu!!!!
Kinailah Ini bu... Ini buat Ibu!!!
teriak anak-anak kegirangan setelah seharian bersikuku pantang pulang sebelum burung hantu ditangan... dan ...
whuatt, burung hantu mau dikerangkeng dirumah Saya??
saya hanya tertawa dan minta anak-anak lepasin lagi, bagaimana mungkin pelihara burung hantu, liat semut kumpul keluarga aja ibu udah panik duluan.. haha i will always remember that another surprise


Punten ....
mangga ....
wops, bukan, saya bukan lagi di daerah Sunda atau Kampung Sunda di sini, punten adalah sebutan buat angkot di foto ini. Punten adanya cuma setiap hari Sabtu pagi dan sore yang berjasa antar orang-orang di Desa yang mau pergi ke Kota.. Mudah-mudahan sebelum pulang bisa merasakan ngomong "mangga" di punten ini ...

Bagai pinang dibelah dua...
yes itulah sepenggalan pepatah yang sudah saya dengar dari kecil, dan Alhamdulillah di usia yang kesekian tahun saya, dan memang mesti ke Lampung dulu akhirnya saya tahu buah pinang adalah buang yang ada di foto ini. Anak-anak hampir setiap siang ke kebun buat nyari buah pinang, kemudian di belah dan bijinya dijual ke tengkulak yang mau buat batik di Kota. Harga perkilo nya Rp. 2.500, hmmm agak kurang sebanding dengan keringat mereka, tapi tetep mereka puas karena bisa menghasilkan uang sendiri buat jajannya... :')


Disini apa-apa serba bikin sendiri, termasuk sapu lidi. Saya sempet diketawain guru-guru karena pulang bawa sapu lidi dari pasar, dan setelah lihat gudang sekolah memang banyak banget sapu lidi berdiri tegap di hadapan saya. Termasuk ibu Sangkut, ibu ini rajin banget buat sapu lidi dari pohon kelapa yang banyak ditemukan liaar di Desa, hmmm... boleh jadi bahan pertimbangan buat dijual di Jakarta. (kalo-kaloo ...)

Saturday, January 18, 2014

We Go for That Smile ...

Setiap orang yang ngelakuin perjalanan pasti banyak ngumpulin priceless moment yang mungkin gak mereka rasakan ditempat lain.. buat saya priceless moment itu ada saat kita bisa bermanfaat dan bahagiain orang yang kita temuin, dan buat saya priceless moment itu ada di senyum-senyum orang yang ada di foto-foto ini ..... :)

1st Meeting Smile
Foto ini saya ambil waktu pertama kali dateng....
-- gak ada lanjutannya ---



"Tukang Kredit" is still exist, people!
Foto ini saya capture persis depan rumah waktu salah 1 sahabat saya, Yuk Ros, ngedatengin tetangga-tetangga buat icip-icip baju jualannya yang bisa dibayar dengan berbagai metode kredit, kredit yang dibayar pake beras dulu dan kredit DP dulu sisanya dibayar semau customer, that's why kedatangan Yuk Ros sangat dinanti-nanti setiap kamis sama ibu-ibu disini.PASCABAYAR : Pasin dulu baru bayar


Kelas Sumringah
Siapapun pasti setuju, senyum siswa-siswa kita saat ngikutin pelajaran itu value nya keberadaan kita dikelas, kalo as a teacher kita jarang lihat yang kayak gitu mesti banyak self evaluation dan berguru pada rudi choirudin
*Kaki Gunung Desa Mulya Jaya, Rebang Tangkas, Way Kanan*



"Bekilah" 
Bekilah yang sering-sering disebut-sebut siswa saya disini maksudnya "wisata" . Yak, dikarenakan jauh dari temoat wisata manapu, alhasil saya mengajak mereka piknik di Kali Neki. Jalan jalan seneng - mancing - berenang  bakar ikan - makan kenyang - dan mengulang proses, intinya have fun dengan apa yang kita punya saat itu jadi 0ne of the best moment yang sukses buat saya dan mereka senyum manis sepanjang hari .. :')

  
The most hillarious teacher training
Ini moment diambil waktu saya dan teman-teman ngadain teacher training untuk pertama kalinya di Kecamatan Kasui, Way Kanan. Guru-guru yang mayoritas suku sumendo ini "ancur" banget ketika diajak berinteraksi dan micro teaching bareng, training pertama yang chaos tapi berkesan sekali, audience training yang aktif, suka merusuh, sekaligus kritis itu "nyawa" banget di setiap pelatihan, thank God we found them.


The Water Experience
Kalo ini lagi mengisi weekend random saya sama anak-anak. Kami semua sepakat ke sawah salah 1 siswa saya dan sebelumnya main ciprat-cipratan centil dulu sama mereka.. 
---------------- menggelayut manis di bebatuan kali ---------------------



The smiling star
Foto ini saya ambil di SDN 3 Tanjung kurung, another SD di tepi hutan karet penempatannya salah 1 teman saya. Excitement siswa-siswa waku dikasih reward potongan gambar bintang yang dibuat dari kertas warna ini kelihatan banget, hal kecil buat kita emang bisa jadi "something" buat mereka, dari hati nyampenya emang selalu ke hati, apapun bentuk dan jenis hal yang diberikan, so teacher... we don't have any reason buat gak ngasi yang terbaik buat siswa-siswa kita, even hal kecil bisa turn mereka ke hal-hal yang gak kita expect sebelumnya :')



Saturday, January 11, 2014

Bahasa Indonesia dan #salahfokus nya Anak Neki


“Ada yang tahu menara Siger?.... HARIMAU!”
“Apa itu hewan? .... VITAMIN!”
“Sebutkan nama-nama profesi?.... LAMPUNG!”
“Berapa umurmu?... Entahh... berapa umur kabah?, kabah lahir tahun due ribu due au?”
---- pingsan sejenak ... ----


Banyak yang berkomentar dan mengira murid-murid saya hanya ngerjain saya ketika saya menceritakan kisah ini, kisah kepolosan dan ketidak pahaman akan berbahasa yang baik yang dialami mayoritas murid-murid saya. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa saya harus akan mengajarkan siswa-siswa saya dari awal lagi. Memahami bahasa indonesia yang baik dan standar dirasa sangat sulit dilakukan oleh mereka, sehingga mereka sering kesulitan dalam menjawab soal di buku, saat ujian semester datang pun tidak sedikit diantara mereka yang menjawab seadanyaa yang mereka bisa, atau paling banter ya menulis soal ulangan kembali seperti yang sering kita lakukan dulu mungkin :D. 

Minggu-minggu pertama saya mengajar ditempat ini cukup banyak mengalami kesulitan, selain berbahasa Indonesia dengan kalimat panjang dan kompleks yang masih sukar dipahami, juga pengejaan beberapa huruf yang membuat saya sudah kehabisan stok senyuman akibat terlalu sulit untuk menuju materi inti yang ingin disampaikan. Kampung yang mayoritas bersuku Sumendo ini terbiasa dengan mengeja beberapa huruf berbeda dari yang lainnya, huruf “E” dibaca dan ditulis “I”, dan setiap kata yang berakhiran huruf “A” dibaca dan ditulis “Ah”. Sehingga pada saat saya mengajakan dasar-dasar Bahasa Inggris mereka kurang dapat menangkap dengan baik. Hari demi hari mengajar mereka membuat saya merubah orientasi mengajar tematik yang saya ingin selipkan dengan pemahaman Bahasa Inggris dan science dasar kini fokus pada pemahaman siswa akan Bahasa Indonesia yang benar.

PONSIS : Pohon Sains sekaligus Narsis (salah satu media permainan buat memahami soal)

Kurangnya sarana dan pengetahuan akan strategi juga media pembelajaran yang digunakan guru kurang lebih menjadi faktor yang paling menentukan pemahaman mereka dalam memahami Bahasa Indonesia dengan baik. Kurangnya konsentrasi dan perhatian akan pendidikan orang tua juga faktor eksternal yang sangat berpengaruh. Sehingga daya tangkap mereka juga kurang terhadap materi pelajaran terutama dalam hal-hal instruksional seperti soal-soal ulangan di buku dan soal ujian.

Mesin fotocopy, itulah sebutan yang sering aya dan teman saya lontarkan ketika berbincang tentang murid-murid kami di penempatan masing-masing, karena memang keadaannya tidak jauh berbeda. Ketika diminta untuk membaca materi baru terlebih dahulu, tujuan saya yang pada awalnya adalah untuk merangsang pengetahuan mereka tentang materi dan saya akan dengan mudah menjelaskan, yak dan mereka pun dengan serentak menanggapi “Ini dijawab ya bu?”.. karena menganggap permintaan saya adalah menjawab soal-soal di buku. Saya pun reflek balik kanan,tutup wajah dengan buku, seraya berkata.. “Ndoooo aiiy” (Ya ampun. Red).  


Mindmapping (untuk Visualisasi apa yang udah anak-anak baca)

CBSA (Catat Buku Sampai Abis) rasanya masih sangat kental di beberapa daerah, siswa cenderung diberikan buku seadanya dengan kualitas fisik buku yang sudah tidak bagus lagi, mereka diminta untuk membuka materi dan mencatat sebagian isi buku tersebut, dan diakhir mereka menjawab soal-soal dibuku yang sedikit banyak sudah terisi karena habis dipakai oleh kakak kelas mereka. Pemahaman materi kurang ditekankan apalagi pemahaman akan maksud-maksud soal tersebut, sehingga ketika menghadapi Ujian Semester mereka sering merasa kesulitan.

 PR besar buat saya dan teman-teman untuk memberikan pemahaman akan hal ini kepada murid-murid kami, tampaknya niat awal untuk “mencerdaskan bangsa” kini terlihat sulit untuk di eksekusi, berat namun sedikit demi sedikit paling nggak berusaha untuk memberikan pengajaran yang berbeda, memperkenalkan apa yang mereka belum kenal, dan yang pasti meluruskan pemahaman tentang cara mengartikan bahasa indoneaia yang benar untuk komunikasi dalam hal apapun termasuk saat ngerjain soal ujian. So far beberapa langkah yang udah saya lakuin buat ngatasin hal ini dengan ngajak mereka ngerjain soal dengan cara yang beda dan penyampaian yang beda, mulai dari jawab soal dengan pohon sains, retell story, sampai buat visualisasi gambar dan mendeskripsikannya lagi kedepan kelas, dengan kayak gitu saya harap kosakata bahasa mereka tambah, kemampuan dan keluwesan komuikasi mereka juga insya Allah nambah.

Nahh.. untuk seterusnya yang punya niat dan visi misi yang sama, saya dan teman-teman sekalian pasti tahu anak-anak kita tidak ada yang bodoh, cuma belum tahu dan belum terbiasa.

------------------------- Mengheningkan cipta dimulai ----------------