Alhamdulillah dapat kesempatan hadir dan berbagi di ACE Tokyo. Banyak ngobrol dengan peneliti dan praktisi dari berbagai negara, dan ternyata banyak hal yang mereka alami juga terjadi di sekolah-sekolah sekitar kita di Indonesia. Refleksi yang paling terpatri di sanubari :
1. Masalah pendidikan mirip di mana-mana—yang beda itu cara sistem meresponsnya.
Dari peserta Singapura, India, sampai Jepang, cerita yang muncul kurang lebih sama: motivasi belajar menurun, dukungan rumah tidak merata, dan leaders juga lagi berjuang menggerakkan guru. Bedanya, beberapa negara sudah menyiapkan sistem respons yang lebih solid—kurikulum, assessment, sampai support struktural—sehingga masalah yang sama bisa ditangani lebih terarah. Ini bikin saya refleksi: tantangannya sama, tapi respons sistemnya yang membedakan kecepatan progres.
2. Kurikulum yang Adaptif pada Perubahan Politik
Salah satu hal yang paling menarik dari sesi yang saya ikuti adalah bagaimana Jepang merombak kurikulum secara menyeluruh, bukan hanya ganti isi pelajaran di satu jenjang. Mereka membangun sistem yang bisa tetap stabil meski situasi politik berubah—dan dilakukan dari SD sampai ujian masuk universitas. Ada tiga poin :
Pergeseran filosofi belajar Bukan lagi mengejar cepat–benar–akurat, tapi memahami, bertanya, dan berpikir.
Reformasi K–12 : Active Learning diterapkan di semua jenjang. Di SMA muncul mata pelajaran baru yang relevan dengan kehidupan dan masyarakat: Science & Math Inquiry, Integrated Inquiry & Project-Based Learning, Public Philosophy & Policy (cara mengambil keputusan dalam dilema), Comprehensive History Studies → historical thinking, bukan hafalan, Comprehensive Geography → isu sosial global, survival, konflik manusia, IT & Programming Poinnya : mereka tidak lagi terjebak di hafalan tahun–peristiwa, tapi membawa siswa pada analisis konflik, tantangan global, dan bagaimana manusia beradaptasi.
Reformasi Ujian Masuk Universitas. Jepang juga mereformasi ujian masuk universitas: dari soal hafalan menjadi asesmen yang menilai thinking, judgement, expression, menggunakan New Common Test berbasis penalaran, mengalokasikan 30% kuota untuk penilaian aktivitas dan riset, serta mulai 2025 menambahkan penilaian computing skills. Dengan cara ini, reformasi mereka berjalan terintegrasi dari sampai universitas, bukan tambal-sulam—dan ini membuat saya sadar bahwa kurikulum hanya akan berubah secara nyata kalau “ujung sistemnya” ikut berubah.
3. AI dan Otonomi Belajar
Pernah dengar guru bilang, “AI dilarang dipakai di kelas”? Di beberapa sesi IAFOR, ternyata banyak juga pendidik ngalamin kebingungan yang sama. Tapi pesan utamanya jelas: yang jadi masalah bukan AI-nya, tapi kalau guru dan siswa nggak tau cara memakainya.
Karena itu, ada ide buat memakai pendekatan bertahap yang justru mendukung otonomi belajar, bukan mematikan:
Level 1 – Passive use: cari, rewrite, lookup
Level 2 – Guided use: refine, compare, minta feedback
Level 3 – AI as a thinking partner: brainstorm, ideate, contextualize
Pendekatan ini menunjukkan bahwa AI policy bukan bentuk pembatasan, tapi bentuk dukungan. Tujuannya agar siswa dan guru belajar berpikir dengan AI, bukan berpikir digantikan AI. Ini terasa sangat relevan untuk konteks kita di Indonesia, apalagi kalau kita ingin mendorong kemandirian belajar dan agency di kelas.
4. Jadi poster presenter
Pertama kali ngerasain jadi poster presenter, kayaknya 1 jam full ngobrol sama beberapa tamu yang interest dijelasin lebih lanjut. Ada yang dari MoE Singapura, India, diaspora Indonesia yang lagi studi di luar negeri.. dan sesama guru yang dikirim sekolahnya buat cari insight di IAFOR.
Di Poster ngebawain program Pendampingan Sekolah pakai cara 5M - Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Membangun Keberlanjutan, Memilih Tantangan, dan Memberdayakan Konteks—membantu memastikan bahwa guru dan pemimpin sekolah merasa dipahami, memahami makna pekerjaannya dan konsep pengajaran yang berpihak pada anak, mengalami siklus belajar yang berkelanjutan, mendapat tantangan yang relevan, dan mampu memberdayakan komunitas sekitar untuk mencapai tujuan yang dipetakan.
Pendekatan ini membuat pendampingan tidak berhenti di pelatihan, tetapi menjadi proses empowerment: membantu guru memimpin dirinya dulu, lalu timnya, dan managing innovation untuk pendidikan yang berpihak pada anak. Di akhir, ada pertanyaan di poster "how is relevant is this in your context?".. kalo relevan tempel stiker sesuai warna yang dia mau.
These notes are simply what I took away from the conference, based on what I heard and understood. I might have misunderstood or missed a few things here and there—if anyone wants to add or clarify, I’m all ears.
Happy to connect with educators, researchers, and anyone working on school improvement or teacher development.

