“Ada yang tahu menara Siger?....
HARIMAU!”
“Apa itu hewan? .... VITAMIN!”
“Sebutkan nama-nama profesi?....
LAMPUNG!”
“Berapa umurmu?... Entahh...
berapa umur kabah?, kabah lahir tahun due ribu due au?”
---- pingsan sejenak
... ----
Banyak yang berkomentar dan
mengira murid-murid saya hanya ngerjain
saya ketika saya menceritakan kisah ini, kisah kepolosan dan ketidak pahaman
akan berbahasa yang baik yang dialami mayoritas murid-murid saya. Tidak pernah
terlintas dalam pikiran saya bahwa saya harus akan mengajarkan siswa-siswa saya
dari awal lagi. Memahami bahasa indonesia yang baik dan standar dirasa sangat
sulit dilakukan oleh mereka, sehingga mereka sering kesulitan dalam menjawab
soal di buku, saat ujian semester datang pun tidak sedikit diantara mereka yang
menjawab seadanyaa yang mereka bisa, atau paling banter ya menulis soal ulangan
kembali seperti yang sering kita lakukan dulu mungkin :D.
Minggu-minggu pertama saya
mengajar ditempat ini cukup banyak mengalami kesulitan, selain berbahasa
Indonesia dengan kalimat panjang dan kompleks yang masih sukar dipahami, juga
pengejaan beberapa huruf yang membuat saya sudah kehabisan stok senyuman akibat
terlalu sulit untuk menuju materi inti yang ingin disampaikan. Kampung yang
mayoritas bersuku Sumendo ini terbiasa dengan mengeja beberapa huruf berbeda
dari yang lainnya, huruf “E” dibaca dan ditulis “I”, dan setiap kata yang
berakhiran huruf “A” dibaca dan ditulis “Ah”. Sehingga pada saat saya
mengajakan dasar-dasar Bahasa Inggris mereka kurang dapat menangkap dengan
baik. Hari demi hari mengajar mereka membuat saya merubah orientasi mengajar
tematik yang saya ingin selipkan dengan pemahaman Bahasa Inggris dan science dasar kini fokus pada pemahaman
siswa akan Bahasa Indonesia yang benar.
| PONSIS : Pohon Sains sekaligus Narsis (salah satu media permainan buat memahami soal) |
Kurangnya sarana dan pengetahuan akan strategi juga media pembelajaran yang digunakan guru kurang lebih menjadi
faktor yang paling menentukan pemahaman mereka dalam memahami Bahasa Indonesia
dengan baik. Kurangnya konsentrasi dan perhatian akan pendidikan orang tua juga
faktor eksternal yang sangat berpengaruh. Sehingga daya tangkap mereka juga
kurang terhadap materi pelajaran terutama dalam hal-hal instruksional seperti
soal-soal ulangan di buku dan soal ujian.
Mesin fotocopy, itulah sebutan yang sering aya dan teman saya
lontarkan ketika berbincang tentang murid-murid kami di penempatan masing-masing, karena memang keadaannya tidak jauh berbeda. Ketika diminta untuk membaca
materi baru terlebih dahulu, tujuan saya yang pada awalnya adalah untuk
merangsang pengetahuan mereka tentang materi dan saya akan dengan mudah
menjelaskan, yak dan mereka pun dengan serentak menanggapi “Ini dijawab ya bu?”.. karena menganggap permintaan saya adalah
menjawab soal-soal di buku. Saya pun reflek balik kanan,tutup wajah dengan
buku, seraya berkata.. “Ndoooo aiiy”
(Ya ampun. Red).
![]() |
| Mindmapping (untuk Visualisasi apa yang udah anak-anak baca) |
CBSA (Catat Buku Sampai Abis)
rasanya masih sangat kental di beberapa daerah, siswa cenderung diberikan buku
seadanya dengan kualitas fisik buku yang sudah tidak bagus lagi, mereka diminta
untuk membuka materi dan mencatat sebagian isi buku tersebut, dan diakhir
mereka menjawab soal-soal dibuku yang sedikit banyak sudah terisi karena habis
dipakai oleh kakak kelas mereka. Pemahaman materi kurang ditekankan apalagi
pemahaman akan maksud-maksud soal tersebut, sehingga ketika menghadapi Ujian
Semester mereka sering merasa kesulitan.
PR besar buat saya dan teman-teman
untuk memberikan pemahaman akan hal ini kepada murid-murid kami, tampaknya niat
awal untuk “mencerdaskan bangsa” kini terlihat sulit untuk di eksekusi, berat namun
sedikit demi sedikit paling nggak berusaha untuk memberikan pengajaran yang
berbeda, memperkenalkan apa yang mereka belum kenal, dan yang pasti meluruskan pemahaman tentang cara mengartikan bahasa indoneaia yang benar untuk komunikasi dalam hal apapun termasuk saat ngerjain soal ujian. So far beberapa langkah yang udah saya lakuin buat ngatasin hal ini dengan ngajak mereka ngerjain soal dengan cara yang beda dan penyampaian yang beda, mulai dari jawab soal dengan pohon sains, retell story, sampai buat visualisasi gambar dan mendeskripsikannya lagi kedepan kelas, dengan kayak gitu saya harap kosakata bahasa mereka tambah, kemampuan dan keluwesan komuikasi mereka juga insya Allah nambah.
Nahh.. untuk seterusnya yang punya niat dan visi misi yang sama, saya dan teman-teman sekalian pasti tahu anak-anak kita tidak ada yang bodoh, cuma belum tahu dan belum terbiasa.
------------------------- Mengheningkan cipta dimulai ----------------

No comments:
Post a Comment