Anotasi bibilografi merupakan bentuk tulisan yang memaparkan kajian atau ringkasan singkat dari beberapa buku atau artikel yang saling berkaitan. Di samping itu, uraiannya menggambarkan pemahaman penulis terhadap buku atau artikel yang dibahas.
- Buku Pedoman Karya Tulis Ilmiah UPI
Perlu gak sih buat Anotasi Bibliografi?
Setelah ngerasain manfaatnya secara signifikan dalam membuat makalah atau karya tulis lain yang lebih panjang dan membutuhkan banyak literatur, gw bisa bilang membuat anotasi ini bermanfaat banget.
Ok mari kita list apa aja
manfaatnya :
1. Anotasi
memperbanyak pengetahuan kita agar lebih terfokus sama topik yang ingin
kita kuasai. Contoh, gw ambil anotasi soal kurikulum rekonstruksi
sosial, di banyak penelitian yang gw anotasiin memuat hal yang fokusnya
beda-beda. Ada yang bahas filosofinya, pembelajarannya sampe ada yg
bahas evaluasinya. Nah, dari situ kebayang kan pengetahuan kita akan
topik tertentu jadi menyeluruh dan kalo kata prof prof, KOMPREHENSIP.
2.
Dosen gw pernah mengoreksi salah 1 makalah di kelas, beliau bilang gini
"ini juga daftar pustakanya sedikit sekali ya, ketahuan bacaannya ga
banyak". Jleb, gw ngerasa iya juga ya.. ternyata para profesional memang
menilai karya ilmiah dr banyaknya literatur dalam karya itu dan jadi
salah 1 bahan penilaian.. jd inilah pentingnya anotasi, memperkaya
literatur dalam karya ilmiah.
3.
Anotasi buat kita gampang inget kalo sewaktu waktu mesti cari bahan
bacaan terkait topik yang lagi kita tulis, tinggal buka aplikasi tempat
kita nulis terus find deh keywordnya, karna kalo search nya di google
kan kebayang yg mesti difilter segimana banyak ya bok.
Nah itu tadi manfaatnya, jadi jika sobat2 mahasiswa non pekerja dan non magang kalo lg gabut mending pikirin skripsi/tesis sedari dini dengan ngumpulin anotasi.. kan enak tuh kalo udh saat nya bikin jurnal tinggal ngelanjutin bikin jurnal literature review, dan kalo udh saatnya submit proposal tinggal masukkin ke bab 2 tinjauan pustaka yang sesuai sama topik yg jd interest kita dan mau kita teliti.
Lantas, gimana caranya, susah ngga?
NGGAAA... susah di awal si normal ya, tp kalo dah nemuin polanya jadi enak.. Berikut cara buat anotasi ala gw :
1. Tentukan topik yang bener-bener kamu suka. Menentukan topik buat gw berlangsung sekitar 3 bulan, setelah baca sana sini gw memilih sebuah topik yang masih jarang dibahas dan sebagai anak IPS, harus banget berpengaruh pada isu sosial dan kehidupan sehari-hari.
2. Cari jurnal dan penelitian yang kevalidannnya oke. Kalo gw banyak ambil dari ERIC, google scholar dan jurnal milik kampus (Universitas Pendidikan Indonesia)
3, Buat membaca keseluruhan isi jurnal yang diambil pasti butuh waktu banyak, kalo gw cukup baca abstrak, pembahasan penelitian dan kesimpulannya aja.
4. Setelah itu tulis dengan kata-kata sendiri sekitar 1 paragraf apa yang dipahami dari isi jurnal
5. Di buku panduan penulisan karya ilmiah UPI, anotasi terbagi jadi 2, anotasi deskriptif atau evaluatif. Kalau kamu milih buat pakai yang deskriptif berarti cukup deskripsikan aja isis jurnalnya yang sesuai topikmu. Kalau pilih evaluatif berarti sertakan komentar mu tentang isi jurnal di paragraf sesudahnya.
6. Jangan pikirin teknik penulisan di awal (kata2nya udah bagus apa belom/titik koma, huruf harus di bold/italic dll.. nanti udah males sendiri. Ini jadi bagian terakhir aja. (kalo gw yaaa...)
So.. ini salah 1 contoh anotasi gw yang telah melewati sesi screening dari dosen gw Prof. Said Hamid Hasan, MA
Contoh anotasi evaluatif
Kadek Jimi Adnyana, I Wayan Lasmawan, I Wayan Koyan.
(2013) Pengaruh Model Pembelajaran Rekonstruksi Sosial Terhadap Keterampilan
Berfikir Kreatif Dan Pemahaman Konsep IPS”. e-Journal Program Pascasarjana
Universitas Pendidikan Ganesha
Dalam penelitian ini disebutkan Model
rekonstruksi sosial tidak semata untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa
namun hal tidak kalah pentingnya adalah memberi kesempatan seluas-luasnya
kepada siswa untuk menuangkan ide-ide kreatifnya dalam memecahkan permasalahan
melalui team work. Siswa akan bertukar pikiran dalam
mencari solusi untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi, dengan membaca
buku, majalah, koran, menyimak berita, kegiatan wawancara, observasi lapangan,
sehingga menghasilkan banyak wawasan untuk menghasilkan sebuah ide dalam
pemecahan masalah dengan rangkaian langkah-langkah pembelajaran rekonstruksi
sosial, diantaranya (1) appercaption;
(2) citing an examples; (3) listing,
grouping, labeling; (4) charting;
dan (5) experiencing.
Artikel
ini memuat secara detail mengenai rekonstruksi sosial, namun dalam
pembahasannya, peneliti menitik beratkan bahwa rekonstruksi sosial adalah model
pembelajaran.Sedangkan dari mayoritas sumber yang penulis baca, rekonstruksi
sosial merupakan model kurikulum, bukan pembelajaran. Namun dengan adanya
pembahasan mengenai pembelajaran secara lebih detail, maka hasil penelitian ini
juga dapat dijadikan acuan pada tataran implementasi kuirkulum rekonstruksi
sosial dalam kaitannya dengan pembelajaran.
No comments:
Post a Comment