Sudah hampir satu tahun saya berkelana di propinsi Lampung yang khas dengan
gajah dan pisangnya ini. Cuacanya yang panas dan luasnya yang minta ampun buat
banyak perubahan dalam diri saya, mulai dari berat badan yang turun naik dengan
fluktuatif (ya karena tiap ke pusat kota saya selalu geragas menjelajahi
kuliner-kuliner yang jarang saya temui di desa), perubahan warna kulit, sampai
pada perubahan cara mengorganize diri dan yang pasti cara bersosialisasi.
Every journey has many lessons to learn, kata-kata pamungkas itu yang
selalu saya katakan kepada nyokap dan bokap saya setiap kali mau jalan jauh dan
dalam jangka waktu yang lama, yang pada akhirnya membuat mereka merestui
keinginan-keinginan “aneh” anaknya ini. Karena saya yakin banget pada awalnya,
apapun yang terjadi nanti, ketika kita jauh dari “hidup normal” kita, jauh dari
keluarga dan fasilitas serba mudah yang selama ini kita jalanin, dan yang pasti
jauh dari makanan-makanan berkolesterol tinggi nan kurang sehat bakal membawa
dampak yang positif banget dalam diri kita.
Setelah lama mengikuti proses perekrutan dan perestuan orang tua, akhirnya
akhir September tahun 2012 lalu saya resmi bergabung dengan Sekolah Guru
Indonesia Dompet Dhuafa, salah satu lembaga non formal rintisan dari lembaga
zakat yang cukup diperhitungkan di Indonesia, Dompet Dhuafa. Sekitar 1,5 tahun saya
mengikuti mulai dari proses pendidikan dan akhirnya pada tanggal 17 Maret 2013
diputuskanlah saya ditempatkan di Lampung. Ekspresi wajah kurang interest
dengan daerahnya sontak saya pancarkan waktu hari pengumuman, dikarenakan
impian saya adalah di tematkan di daerah pantai nan eksotis seperti daerah
Sulawesi, dan seperti dugaan saya, yang paling senang dari keputusan ini adalah
nyokap saya yang sejak pertama daftar selalu bilang
“yauda, mudah-mudahan adek ditempatin di Lampung ya, dekatlah mama tu
tiap minggu kunjungi niku”... mom, this is your prayer
Temen-temen saya banyak yang bilang
“wah deket banget ya, Lampung.. bisa tiap minggu pulang ke Jakarta”...
“enak banget dapet di Lampung yaa, deket...”
 |
| 5hours from here .... :') (photo by google) |
Saya pun menjawab dengan singkat, nada tinggi sekaligus bibir yang gak
santai
“Lampung manenye dooloooo..??”..
Kita gak akan sadar betapa luas dan kayanya Indonesia kalo belum ngerasain
yang namanya pindah kabupaten dan kecamatan aja mesti berganti lebih dari 2
transportasi , hampir seluruh jalan lintas Sumatera mungkin saya hapal, memakan
perjalanan berjam-jam, ongkos beratus-ratus ribu, dan kaki yang berpegal-pegal
lalu menuju bengkak-bengkak dikit. Yak, super asem. Inilah Lampung sodara-sodara,
provinsi yang dipenuhi oleh hutan karet dan sawah serta khas dengan Kopi nya
ini lah yang akhirnya memberikan pelajaran keren banget dan banyak merubah pola
pikir saya sebagai wanita dan sebagai guru pastinya.
Dengan trayek yang sangat luas, Provinsi Lampung termasuk dalam salah satu
Provinsi besar yang sekarang makin diperhitungkan, dengan berbagai potensi alam
yang dimilikinya provinsi ini banyak industri rumah tangga untuk berkembang.
Tetapi walau secara gars besar sudah dikatakan berkembang, daerah disini juga
masih ada beberapa yang masuk dalam kategori tertinggal sesuai survei yang
dilakukan berbagai lembaga. Dari 13 Kabupaten dan 2 Kota yang terdapat di
Provinsi ini, saya dan ke 4 teman saya lainnya ditempatkan di Kabupaten Way
Kanan.
Way Kanan termasuk salah satu dari 4 Kabupaten yang menurut penuturan Pak
Wamen Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) dikategorikan tertinggal. Dilihat
dari potensi alamnya sebenernya kabupaten ini cukup kaya, dari 14 kecamatan
yang dimiliki hampir seluruhnya punya potensi alam yang berbeda-beda, ada
sawah, kopi, lada, hingga 2 potensi alam yang sangat saya hindari kalo lagi
lewat daerahnya dikarenakan baunya yang nggak manusiawi menyengat hingga ke
ubun-ubun, yak itulah tumbuhan karet dan jering (jengkol.red)
Alhamdulillah, saya masih lebih beruntung dari ke 4 teman saya karena saya
ditempatkan di daerah yang tidak begitu jauh dari pusat kota, Desa Neki di
Kecamatan Banjit namanya. Desa ini lokasinya sekitar 40 menit dari Baradatu
(Jalan lintas Sumatera, pusat kota di Kabupaten Way Kanan).. dan itu kalo belom
termasuk sama jalan licin pasca hujan. Kepelset, motor mati-mati dan mengulang
proses. Terbayang betapa butir keringat dan kalori yang keluar setiap kali
melakukan perjalanan dari Desa ke (semi) kota ini. Dan dari Desa inilah
pengalaman hidup saya perlahan mulai bertambah, suka duka, manis sepet
kehidupan saya selama satu tahun semua dimulai dari Desa ini. *mulai sendu
Anyway, dalam beberapa tulisan kedepan saya akan mencurahkan pengalaman saya
struggle dengan lingkungan dan budaya baru, menggerutu kecil sekelibet mencibir
ibu-ibu tetangga yang kadang rese, menceritakan pengalaman mengajar anak-anak
SDN Neki yang unyu munyu lagi menggemaskan sekaligus membuat saya sering
mengkedut-kedutkan pipi dengan signifikan akibat hilang kesabaran, beberapa
kisah tentang 4 teman saya yang teronggok di tepi-tepi hutan karet dan kopi,
kisah orang-orang yang dikirim Allah buat jadi guardian saya, sampai pada kisah
“galau 12 purnama” akibat percintaan saya yang naas lagi ngenes lagi memuleskan
lagi... (baiklah saya gak tau kosakata menyedihkan apa lagi yang bisa saya
tulis) yang ternyata kebawa walau saya udah lari ke ujung berung, it’s all
about lifetime experience!
But here’s
the thing, dibalik suka duka serta hal-hal kurang menyenangkan yang saya
rasain, disamping beberapa gerutuan hangat yang akan saya sampaikan nanti, saya
sangat bersyukur karena udah mampu sedikit menuntaskan keinginan sedikit
berbuat untuk anak-anak yang punya hak sama buat dapetin pendidikan layak.
Selain itu saya juga bersykur karena udah bisa membunuh kekhawatiran saya
pribadi dan keluarga, and as i quoted from Lion King the movie “Hakuna
Matata”, if you want things to happen just let it happen, jangan biarkan
kehawatiran tertanam dalam diri lo yang akhirnya nutup semua kesempatan besar
yang dampaknya akan besar banget buat lo. Masalah keluarga, saya yakin keluarga
adalah orang-orang yang udah di “setting” Allah untuk jadi sosok yang
paling mengerti kita dan siap dibelakang kalo kita gagal, tinggal gimana kita
meyakini dan membuktikan, apapun yang kita lakukan adalah kebanggan.
 |
| Muka-muka "basian" farewell ceremony jam 2pagi di airport :P |