Friday, October 13, 2017

Menolak Move On dari akhir pekan atau libur panjang, do you?

Bye Holidaayyyy....
postingan ini gue tulis sembari makan bekel yang gue masak sendiri jam setengah 3 pagi dan menanti pesawat boarding menuju Lampung..
Badan rasanya berat, kasur berasa lebih comfort dari biasanya, packing dilama-lamain, dan sekumpulan mager bersatu seketika kalo abis waktu liburan... ada yang merasakan?, yakkk.., same story, artinya kita masih susah banget move on dari libur panjang dan setumpuk kerjaanpun menanti.

Mungkin banyak dari kita yang ngerasain ini juga, sadar gak sadar ini pun terjadi setiap hari jumat, hari dimana yang kerja atau sekolah ngerasa bahagia banget karena besoknya free dari rutinitas..

Entah berapa banyak dari kita yang gak seru-seruan update status TGIF dan I hate monday setiap minggunya, entah brapa banyak dari kita juga yang gerutu-gerutu kecil kalo besoknya harpitnas, dan teriak horay dengan huuf a sekian banyak kalo besoknya mau long weekend.. atau seperti temen gue yang beberapa kali ngetweet menanyakan ada gak hari sebekum senin dan setelah minggu.. it really happens!

------------------------------- mikir mau nulis apa ---------------------------

If you live for weekends or vacations, your shit is broken. 
– Gary Vaynerchuk

Itu quote yang di tweet sahabat gue dan akhirnya ngerubah pandangan gue tentang liburan dan kerjaan. Break dari rutinitas adalah semua hal yang manusia normal butuhin, karena kalo nggak pasti akan ngaruh ke kualitas belajar atau kerjaan kita... Tapi finally gue berpikir, kalo setiap mau kerja yang dikeluhin adalah kapan kita libur terus atau kapan kita gajian dan dapet bonus terus, do we really love our job?

Ngabisin seumur hidup buat ngelakuin apabyang kita kerjain emang rugi banget, sadarbga sadar kerjaan sekarang mungkin buat sebagia  kita cuma rutinitas buat oemenuh kebutuhan, bukan karena kita cinta dan seneng sama apa yang kita kerjain, alhasil masa jenuh sama kerjaan bukan tempo-tempo tertentu aja melainkan setiap hari, dannnng! Ada yang merasakan?, "WAALAIKUMSALAM" TO YOUR JOB.

Menurut gue kurangnya kesenangan dan kepuasan kita samankerjaan kita sekarang jadi penyebab utamakenapa keluah-keluhan itu sering banget keluar. Istirahat sebelum capek, tidur sebelum ngantuk, dan kalau waktu-waktu itu gak terpenuhin, kutukan-kutukan halus lah yang keluar.... kosong, kerjaan cuma rutinitas tapi feel bekerja dan struggling nya gak kita milikin...


Sunday, January 19, 2014

Little experience...

Yessss... ini mungkin udah jarang kita temukan di sekolah-sekolah diperkotaan, papan tulisnkapur. Ini jadi salah satu tantangan buat saya juga, dikarenakan tulisan tangan yang hampir menyerupai mereka, saya cukup kualahan nulis di papan tulis kapur sampai akhirnya sekarang udah mulai biasa... mari kita lestarikan kapur! 
-___-'

Pejamkan sejenak mata anda ...
lalu lihat kembali seoonggok bungkusan di atas pintu di foto ini ..
Yak, ini adalah sebungkus daging kurban yang dititip tetangga untuk saya, ceritanya surprise gicuuuuu... :p

Tok tok tok .... bu! Bu!!!!
Kinailah Ini bu... Ini buat Ibu!!!
teriak anak-anak kegirangan setelah seharian bersikuku pantang pulang sebelum burung hantu ditangan... dan ...
whuatt, burung hantu mau dikerangkeng dirumah Saya??
saya hanya tertawa dan minta anak-anak lepasin lagi, bagaimana mungkin pelihara burung hantu, liat semut kumpul keluarga aja ibu udah panik duluan.. haha i will always remember that another surprise


Punten ....
mangga ....
wops, bukan, saya bukan lagi di daerah Sunda atau Kampung Sunda di sini, punten adalah sebutan buat angkot di foto ini. Punten adanya cuma setiap hari Sabtu pagi dan sore yang berjasa antar orang-orang di Desa yang mau pergi ke Kota.. Mudah-mudahan sebelum pulang bisa merasakan ngomong "mangga" di punten ini ...

Bagai pinang dibelah dua...
yes itulah sepenggalan pepatah yang sudah saya dengar dari kecil, dan Alhamdulillah di usia yang kesekian tahun saya, dan memang mesti ke Lampung dulu akhirnya saya tahu buah pinang adalah buang yang ada di foto ini. Anak-anak hampir setiap siang ke kebun buat nyari buah pinang, kemudian di belah dan bijinya dijual ke tengkulak yang mau buat batik di Kota. Harga perkilo nya Rp. 2.500, hmmm agak kurang sebanding dengan keringat mereka, tapi tetep mereka puas karena bisa menghasilkan uang sendiri buat jajannya... :')


Disini apa-apa serba bikin sendiri, termasuk sapu lidi. Saya sempet diketawain guru-guru karena pulang bawa sapu lidi dari pasar, dan setelah lihat gudang sekolah memang banyak banget sapu lidi berdiri tegap di hadapan saya. Termasuk ibu Sangkut, ibu ini rajin banget buat sapu lidi dari pohon kelapa yang banyak ditemukan liaar di Desa, hmmm... boleh jadi bahan pertimbangan buat dijual di Jakarta. (kalo-kaloo ...)

Saturday, January 18, 2014

We Go for That Smile ...

Setiap orang yang ngelakuin perjalanan pasti banyak ngumpulin priceless moment yang mungkin gak mereka rasakan ditempat lain.. buat saya priceless moment itu ada saat kita bisa bermanfaat dan bahagiain orang yang kita temuin, dan buat saya priceless moment itu ada di senyum-senyum orang yang ada di foto-foto ini ..... :)

1st Meeting Smile
Foto ini saya ambil waktu pertama kali dateng....
-- gak ada lanjutannya ---



"Tukang Kredit" is still exist, people!
Foto ini saya capture persis depan rumah waktu salah 1 sahabat saya, Yuk Ros, ngedatengin tetangga-tetangga buat icip-icip baju jualannya yang bisa dibayar dengan berbagai metode kredit, kredit yang dibayar pake beras dulu dan kredit DP dulu sisanya dibayar semau customer, that's why kedatangan Yuk Ros sangat dinanti-nanti setiap kamis sama ibu-ibu disini.PASCABAYAR : Pasin dulu baru bayar


Kelas Sumringah
Siapapun pasti setuju, senyum siswa-siswa kita saat ngikutin pelajaran itu value nya keberadaan kita dikelas, kalo as a teacher kita jarang lihat yang kayak gitu mesti banyak self evaluation dan berguru pada rudi choirudin
*Kaki Gunung Desa Mulya Jaya, Rebang Tangkas, Way Kanan*



"Bekilah" 
Bekilah yang sering-sering disebut-sebut siswa saya disini maksudnya "wisata" . Yak, dikarenakan jauh dari temoat wisata manapu, alhasil saya mengajak mereka piknik di Kali Neki. Jalan jalan seneng - mancing - berenang  bakar ikan - makan kenyang - dan mengulang proses, intinya have fun dengan apa yang kita punya saat itu jadi 0ne of the best moment yang sukses buat saya dan mereka senyum manis sepanjang hari .. :')

  
The most hillarious teacher training
Ini moment diambil waktu saya dan teman-teman ngadain teacher training untuk pertama kalinya di Kecamatan Kasui, Way Kanan. Guru-guru yang mayoritas suku sumendo ini "ancur" banget ketika diajak berinteraksi dan micro teaching bareng, training pertama yang chaos tapi berkesan sekali, audience training yang aktif, suka merusuh, sekaligus kritis itu "nyawa" banget di setiap pelatihan, thank God we found them.


The Water Experience
Kalo ini lagi mengisi weekend random saya sama anak-anak. Kami semua sepakat ke sawah salah 1 siswa saya dan sebelumnya main ciprat-cipratan centil dulu sama mereka.. 
---------------- menggelayut manis di bebatuan kali ---------------------



The smiling star
Foto ini saya ambil di SDN 3 Tanjung kurung, another SD di tepi hutan karet penempatannya salah 1 teman saya. Excitement siswa-siswa waku dikasih reward potongan gambar bintang yang dibuat dari kertas warna ini kelihatan banget, hal kecil buat kita emang bisa jadi "something" buat mereka, dari hati nyampenya emang selalu ke hati, apapun bentuk dan jenis hal yang diberikan, so teacher... we don't have any reason buat gak ngasi yang terbaik buat siswa-siswa kita, even hal kecil bisa turn mereka ke hal-hal yang gak kita expect sebelumnya :')



Saturday, January 11, 2014

Bahasa Indonesia dan #salahfokus nya Anak Neki


“Ada yang tahu menara Siger?.... HARIMAU!”
“Apa itu hewan? .... VITAMIN!”
“Sebutkan nama-nama profesi?.... LAMPUNG!”
“Berapa umurmu?... Entahh... berapa umur kabah?, kabah lahir tahun due ribu due au?”
---- pingsan sejenak ... ----


Banyak yang berkomentar dan mengira murid-murid saya hanya ngerjain saya ketika saya menceritakan kisah ini, kisah kepolosan dan ketidak pahaman akan berbahasa yang baik yang dialami mayoritas murid-murid saya. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa saya harus akan mengajarkan siswa-siswa saya dari awal lagi. Memahami bahasa indonesia yang baik dan standar dirasa sangat sulit dilakukan oleh mereka, sehingga mereka sering kesulitan dalam menjawab soal di buku, saat ujian semester datang pun tidak sedikit diantara mereka yang menjawab seadanyaa yang mereka bisa, atau paling banter ya menulis soal ulangan kembali seperti yang sering kita lakukan dulu mungkin :D. 

Minggu-minggu pertama saya mengajar ditempat ini cukup banyak mengalami kesulitan, selain berbahasa Indonesia dengan kalimat panjang dan kompleks yang masih sukar dipahami, juga pengejaan beberapa huruf yang membuat saya sudah kehabisan stok senyuman akibat terlalu sulit untuk menuju materi inti yang ingin disampaikan. Kampung yang mayoritas bersuku Sumendo ini terbiasa dengan mengeja beberapa huruf berbeda dari yang lainnya, huruf “E” dibaca dan ditulis “I”, dan setiap kata yang berakhiran huruf “A” dibaca dan ditulis “Ah”. Sehingga pada saat saya mengajakan dasar-dasar Bahasa Inggris mereka kurang dapat menangkap dengan baik. Hari demi hari mengajar mereka membuat saya merubah orientasi mengajar tematik yang saya ingin selipkan dengan pemahaman Bahasa Inggris dan science dasar kini fokus pada pemahaman siswa akan Bahasa Indonesia yang benar.

PONSIS : Pohon Sains sekaligus Narsis (salah satu media permainan buat memahami soal)

Kurangnya sarana dan pengetahuan akan strategi juga media pembelajaran yang digunakan guru kurang lebih menjadi faktor yang paling menentukan pemahaman mereka dalam memahami Bahasa Indonesia dengan baik. Kurangnya konsentrasi dan perhatian akan pendidikan orang tua juga faktor eksternal yang sangat berpengaruh. Sehingga daya tangkap mereka juga kurang terhadap materi pelajaran terutama dalam hal-hal instruksional seperti soal-soal ulangan di buku dan soal ujian.

Mesin fotocopy, itulah sebutan yang sering aya dan teman saya lontarkan ketika berbincang tentang murid-murid kami di penempatan masing-masing, karena memang keadaannya tidak jauh berbeda. Ketika diminta untuk membaca materi baru terlebih dahulu, tujuan saya yang pada awalnya adalah untuk merangsang pengetahuan mereka tentang materi dan saya akan dengan mudah menjelaskan, yak dan mereka pun dengan serentak menanggapi “Ini dijawab ya bu?”.. karena menganggap permintaan saya adalah menjawab soal-soal di buku. Saya pun reflek balik kanan,tutup wajah dengan buku, seraya berkata.. “Ndoooo aiiy” (Ya ampun. Red).  


Mindmapping (untuk Visualisasi apa yang udah anak-anak baca)

CBSA (Catat Buku Sampai Abis) rasanya masih sangat kental di beberapa daerah, siswa cenderung diberikan buku seadanya dengan kualitas fisik buku yang sudah tidak bagus lagi, mereka diminta untuk membuka materi dan mencatat sebagian isi buku tersebut, dan diakhir mereka menjawab soal-soal dibuku yang sedikit banyak sudah terisi karena habis dipakai oleh kakak kelas mereka. Pemahaman materi kurang ditekankan apalagi pemahaman akan maksud-maksud soal tersebut, sehingga ketika menghadapi Ujian Semester mereka sering merasa kesulitan.

 PR besar buat saya dan teman-teman untuk memberikan pemahaman akan hal ini kepada murid-murid kami, tampaknya niat awal untuk “mencerdaskan bangsa” kini terlihat sulit untuk di eksekusi, berat namun sedikit demi sedikit paling nggak berusaha untuk memberikan pengajaran yang berbeda, memperkenalkan apa yang mereka belum kenal, dan yang pasti meluruskan pemahaman tentang cara mengartikan bahasa indoneaia yang benar untuk komunikasi dalam hal apapun termasuk saat ngerjain soal ujian. So far beberapa langkah yang udah saya lakuin buat ngatasin hal ini dengan ngajak mereka ngerjain soal dengan cara yang beda dan penyampaian yang beda, mulai dari jawab soal dengan pohon sains, retell story, sampai buat visualisasi gambar dan mendeskripsikannya lagi kedepan kelas, dengan kayak gitu saya harap kosakata bahasa mereka tambah, kemampuan dan keluwesan komuikasi mereka juga insya Allah nambah.

Nahh.. untuk seterusnya yang punya niat dan visi misi yang sama, saya dan teman-teman sekalian pasti tahu anak-anak kita tidak ada yang bodoh, cuma belum tahu dan belum terbiasa.

------------------------- Mengheningkan cipta dimulai ----------------

Lampung dan Sekelumit Kisah Gadis Lintas Sumatera

Sudah hampir satu tahun saya berkelana di propinsi Lampung yang khas dengan gajah dan pisangnya ini. Cuacanya yang panas dan luasnya yang minta ampun buat banyak perubahan dalam diri saya, mulai dari berat badan yang turun naik dengan fluktuatif (ya karena tiap ke pusat kota saya selalu geragas menjelajahi kuliner-kuliner yang jarang saya temui di desa), perubahan warna kulit, sampai pada perubahan cara mengorganize diri dan yang pasti cara bersosialisasi.

Every journey has many lessons to learn, kata-kata pamungkas itu yang selalu saya katakan kepada nyokap dan bokap saya setiap kali mau jalan jauh dan dalam jangka waktu yang lama, yang pada akhirnya membuat mereka merestui keinginan-keinginan “aneh” anaknya ini. Karena saya yakin banget pada awalnya, apapun yang terjadi nanti, ketika kita jauh dari “hidup normal” kita, jauh dari keluarga dan fasilitas serba mudah yang selama ini kita jalanin, dan yang pasti jauh dari makanan-makanan berkolesterol tinggi nan kurang sehat bakal membawa dampak yang positif banget dalam diri kita.

Setelah lama mengikuti proses perekrutan dan perestuan orang tua, akhirnya akhir September tahun 2012 lalu saya resmi bergabung dengan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa, salah satu lembaga non formal rintisan dari lembaga zakat yang cukup diperhitungkan di Indonesia, Dompet Dhuafa. Sekitar 1,5 tahun saya mengikuti mulai dari proses pendidikan dan akhirnya pada tanggal 17 Maret 2013 diputuskanlah saya ditempatkan di Lampung. Ekspresi wajah kurang interest dengan daerahnya sontak saya pancarkan waktu hari pengumuman, dikarenakan impian saya adalah di tematkan di daerah pantai nan eksotis seperti daerah Sulawesi, dan seperti dugaan saya, yang paling senang dari keputusan ini adalah nyokap saya yang sejak pertama daftar selalu bilang

yauda, mudah-mudahan adek ditempatin di Lampung ya, dekatlah mama tu tiap minggu kunjungi niku”... mom, this is your prayer

Temen-temen saya banyak yang bilang

“wah deket banget ya, Lampung.. bisa tiap minggu pulang ke Jakarta”...

“enak banget dapet di Lampung yaa, deket...”

5hours from here .... :') (photo by google)


Saya pun menjawab dengan singkat, nada tinggi sekaligus bibir yang gak santai
“Lampung manenye dooloooo..??”..

Kita gak akan sadar betapa luas dan kayanya Indonesia kalo belum ngerasain yang namanya pindah kabupaten dan kecamatan aja mesti berganti lebih dari 2 transportasi , hampir seluruh jalan lintas Sumatera mungkin saya hapal, memakan perjalanan berjam-jam, ongkos beratus-ratus ribu, dan kaki yang berpegal-pegal lalu menuju bengkak-bengkak dikit. Yak, super asem. Inilah Lampung sodara-sodara, provinsi yang dipenuhi oleh hutan karet dan sawah serta khas dengan Kopi nya ini lah yang akhirnya memberikan pelajaran keren banget dan banyak merubah pola pikir saya sebagai wanita dan sebagai guru pastinya.
Dengan trayek yang sangat luas, Provinsi Lampung termasuk dalam salah satu Provinsi besar yang sekarang makin diperhitungkan, dengan berbagai potensi alam yang dimilikinya provinsi ini banyak industri rumah tangga untuk berkembang. Tetapi walau secara gars besar sudah dikatakan berkembang, daerah disini juga masih ada beberapa yang masuk dalam kategori tertinggal sesuai survei yang dilakukan berbagai lembaga. Dari 13 Kabupaten dan 2 Kota yang terdapat di Provinsi ini, saya dan ke 4 teman saya lainnya ditempatkan di Kabupaten Way Kanan.

Way Kanan termasuk salah satu dari 4 Kabupaten yang menurut penuturan Pak Wamen Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) dikategorikan tertinggal. Dilihat dari potensi alamnya sebenernya kabupaten ini cukup kaya, dari 14 kecamatan yang dimiliki hampir seluruhnya punya potensi alam yang berbeda-beda, ada sawah, kopi, lada, hingga 2 potensi alam yang sangat saya hindari kalo lagi lewat daerahnya dikarenakan baunya yang nggak manusiawi menyengat hingga ke ubun-ubun, yak itulah tumbuhan karet dan jering (jengkol.red)

Alhamdulillah, saya masih lebih beruntung dari ke 4 teman saya karena saya ditempatkan di daerah yang tidak begitu jauh dari pusat kota, Desa Neki di Kecamatan Banjit namanya. Desa ini lokasinya sekitar 40 menit dari Baradatu (Jalan lintas Sumatera, pusat kota di Kabupaten Way Kanan).. dan itu kalo belom termasuk sama jalan licin pasca hujan. Kepelset, motor mati-mati dan mengulang proses. Terbayang betapa butir keringat dan kalori yang keluar setiap kali melakukan perjalanan dari Desa ke (semi) kota ini. Dan dari Desa inilah pengalaman hidup saya perlahan mulai bertambah, suka duka, manis sepet kehidupan saya selama satu tahun semua dimulai dari Desa ini. *mulai sendu

Anyway, dalam beberapa tulisan kedepan saya akan mencurahkan pengalaman saya struggle dengan lingkungan dan budaya baru, menggerutu kecil sekelibet mencibir ibu-ibu tetangga yang kadang rese, menceritakan pengalaman mengajar anak-anak SDN Neki yang unyu munyu lagi menggemaskan sekaligus membuat saya sering mengkedut-kedutkan pipi dengan signifikan akibat hilang kesabaran, beberapa kisah tentang 4 teman saya yang teronggok di tepi-tepi hutan karet dan kopi, kisah orang-orang yang dikirim Allah buat jadi guardian saya, sampai pada kisah “galau 12 purnama” akibat percintaan saya yang naas lagi ngenes lagi memuleskan lagi... (baiklah saya gak tau kosakata menyedihkan apa lagi yang bisa saya tulis) yang ternyata kebawa walau saya udah lari ke ujung berung, it’s all about lifetime experience!



But here’s the thing, dibalik suka duka serta hal-hal kurang menyenangkan yang saya rasain, disamping beberapa gerutuan hangat yang akan saya sampaikan nanti, saya sangat bersyukur karena udah mampu sedikit menuntaskan keinginan sedikit berbuat untuk anak-anak yang punya hak sama buat dapetin pendidikan layak. Selain itu saya juga bersykur karena udah bisa membunuh kekhawatiran saya pribadi dan keluarga, and as i quoted from Lion King the movie “Hakuna Matata”, if you want things to happen just let it happen, jangan biarkan kehawatiran tertanam dalam diri lo yang akhirnya nutup semua kesempatan besar yang dampaknya akan besar banget buat lo. Masalah keluarga, saya yakin keluarga adalah orang-orang yang udah di “setting” Allah untuk jadi sosok yang paling mengerti kita dan siap dibelakang kalo kita gagal, tinggal gimana kita meyakini dan membuktikan, apapun yang kita lakukan adalah kebanggan.

Muka-muka "basian" farewell ceremony jam 2pagi di airport :P