Saturday, January 11, 2014

Lampung dan Sekelumit Kisah Gadis Lintas Sumatera

Sudah hampir satu tahun saya berkelana di propinsi Lampung yang khas dengan gajah dan pisangnya ini. Cuacanya yang panas dan luasnya yang minta ampun buat banyak perubahan dalam diri saya, mulai dari berat badan yang turun naik dengan fluktuatif (ya karena tiap ke pusat kota saya selalu geragas menjelajahi kuliner-kuliner yang jarang saya temui di desa), perubahan warna kulit, sampai pada perubahan cara mengorganize diri dan yang pasti cara bersosialisasi.

Every journey has many lessons to learn, kata-kata pamungkas itu yang selalu saya katakan kepada nyokap dan bokap saya setiap kali mau jalan jauh dan dalam jangka waktu yang lama, yang pada akhirnya membuat mereka merestui keinginan-keinginan “aneh” anaknya ini. Karena saya yakin banget pada awalnya, apapun yang terjadi nanti, ketika kita jauh dari “hidup normal” kita, jauh dari keluarga dan fasilitas serba mudah yang selama ini kita jalanin, dan yang pasti jauh dari makanan-makanan berkolesterol tinggi nan kurang sehat bakal membawa dampak yang positif banget dalam diri kita.

Setelah lama mengikuti proses perekrutan dan perestuan orang tua, akhirnya akhir September tahun 2012 lalu saya resmi bergabung dengan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa, salah satu lembaga non formal rintisan dari lembaga zakat yang cukup diperhitungkan di Indonesia, Dompet Dhuafa. Sekitar 1,5 tahun saya mengikuti mulai dari proses pendidikan dan akhirnya pada tanggal 17 Maret 2013 diputuskanlah saya ditempatkan di Lampung. Ekspresi wajah kurang interest dengan daerahnya sontak saya pancarkan waktu hari pengumuman, dikarenakan impian saya adalah di tematkan di daerah pantai nan eksotis seperti daerah Sulawesi, dan seperti dugaan saya, yang paling senang dari keputusan ini adalah nyokap saya yang sejak pertama daftar selalu bilang

yauda, mudah-mudahan adek ditempatin di Lampung ya, dekatlah mama tu tiap minggu kunjungi niku”... mom, this is your prayer

Temen-temen saya banyak yang bilang

“wah deket banget ya, Lampung.. bisa tiap minggu pulang ke Jakarta”...

“enak banget dapet di Lampung yaa, deket...”

5hours from here .... :') (photo by google)


Saya pun menjawab dengan singkat, nada tinggi sekaligus bibir yang gak santai
“Lampung manenye dooloooo..??”..

Kita gak akan sadar betapa luas dan kayanya Indonesia kalo belum ngerasain yang namanya pindah kabupaten dan kecamatan aja mesti berganti lebih dari 2 transportasi , hampir seluruh jalan lintas Sumatera mungkin saya hapal, memakan perjalanan berjam-jam, ongkos beratus-ratus ribu, dan kaki yang berpegal-pegal lalu menuju bengkak-bengkak dikit. Yak, super asem. Inilah Lampung sodara-sodara, provinsi yang dipenuhi oleh hutan karet dan sawah serta khas dengan Kopi nya ini lah yang akhirnya memberikan pelajaran keren banget dan banyak merubah pola pikir saya sebagai wanita dan sebagai guru pastinya.
Dengan trayek yang sangat luas, Provinsi Lampung termasuk dalam salah satu Provinsi besar yang sekarang makin diperhitungkan, dengan berbagai potensi alam yang dimilikinya provinsi ini banyak industri rumah tangga untuk berkembang. Tetapi walau secara gars besar sudah dikatakan berkembang, daerah disini juga masih ada beberapa yang masuk dalam kategori tertinggal sesuai survei yang dilakukan berbagai lembaga. Dari 13 Kabupaten dan 2 Kota yang terdapat di Provinsi ini, saya dan ke 4 teman saya lainnya ditempatkan di Kabupaten Way Kanan.

Way Kanan termasuk salah satu dari 4 Kabupaten yang menurut penuturan Pak Wamen Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) dikategorikan tertinggal. Dilihat dari potensi alamnya sebenernya kabupaten ini cukup kaya, dari 14 kecamatan yang dimiliki hampir seluruhnya punya potensi alam yang berbeda-beda, ada sawah, kopi, lada, hingga 2 potensi alam yang sangat saya hindari kalo lagi lewat daerahnya dikarenakan baunya yang nggak manusiawi menyengat hingga ke ubun-ubun, yak itulah tumbuhan karet dan jering (jengkol.red)

Alhamdulillah, saya masih lebih beruntung dari ke 4 teman saya karena saya ditempatkan di daerah yang tidak begitu jauh dari pusat kota, Desa Neki di Kecamatan Banjit namanya. Desa ini lokasinya sekitar 40 menit dari Baradatu (Jalan lintas Sumatera, pusat kota di Kabupaten Way Kanan).. dan itu kalo belom termasuk sama jalan licin pasca hujan. Kepelset, motor mati-mati dan mengulang proses. Terbayang betapa butir keringat dan kalori yang keluar setiap kali melakukan perjalanan dari Desa ke (semi) kota ini. Dan dari Desa inilah pengalaman hidup saya perlahan mulai bertambah, suka duka, manis sepet kehidupan saya selama satu tahun semua dimulai dari Desa ini. *mulai sendu

Anyway, dalam beberapa tulisan kedepan saya akan mencurahkan pengalaman saya struggle dengan lingkungan dan budaya baru, menggerutu kecil sekelibet mencibir ibu-ibu tetangga yang kadang rese, menceritakan pengalaman mengajar anak-anak SDN Neki yang unyu munyu lagi menggemaskan sekaligus membuat saya sering mengkedut-kedutkan pipi dengan signifikan akibat hilang kesabaran, beberapa kisah tentang 4 teman saya yang teronggok di tepi-tepi hutan karet dan kopi, kisah orang-orang yang dikirim Allah buat jadi guardian saya, sampai pada kisah “galau 12 purnama” akibat percintaan saya yang naas lagi ngenes lagi memuleskan lagi... (baiklah saya gak tau kosakata menyedihkan apa lagi yang bisa saya tulis) yang ternyata kebawa walau saya udah lari ke ujung berung, it’s all about lifetime experience!



But here’s the thing, dibalik suka duka serta hal-hal kurang menyenangkan yang saya rasain, disamping beberapa gerutuan hangat yang akan saya sampaikan nanti, saya sangat bersyukur karena udah mampu sedikit menuntaskan keinginan sedikit berbuat untuk anak-anak yang punya hak sama buat dapetin pendidikan layak. Selain itu saya juga bersykur karena udah bisa membunuh kekhawatiran saya pribadi dan keluarga, and as i quoted from Lion King the movie “Hakuna Matata”, if you want things to happen just let it happen, jangan biarkan kehawatiran tertanam dalam diri lo yang akhirnya nutup semua kesempatan besar yang dampaknya akan besar banget buat lo. Masalah keluarga, saya yakin keluarga adalah orang-orang yang udah di “setting” Allah untuk jadi sosok yang paling mengerti kita dan siap dibelakang kalo kita gagal, tinggal gimana kita meyakini dan membuktikan, apapun yang kita lakukan adalah kebanggan.

Muka-muka "basian" farewell ceremony jam 2pagi di airport :P